Kamis, 02 Mei 2013

Warna Pelangi #bab1

Surat Hari Minggu

Aku masih ingat betul, bagaimana proses pemeriksaan tadi. Sangat menegangkan, sangat menakutkan. Tapi lebih menakutkan lagi saat kau membaca hasilnya. Aku tak habis pikir, mengapa aku bisa begini? Siapa yang menurunkan penyakit ini? Namun hingga saar ini aku belum tahu.
    Aku selalu, dan selalu berharap agar apa yang dikatakan pada surat itu tidak benar adanya. Semua hanya tipuan belaka. Atau mungkin semua itu karena kesalahan Dokter dalam memeriksaku.
    Kudengar bentakan-bentakan keras di lantai 1. Bentakan-bentakan itu bersala dari Ayah dan Ibuku, yang tengah bertengkar, hanya karena aku. Karena surat itu. Karena penyakit itu.
    "Ini semua salah Ayahmu!" bentak Ayah.
    "Aku tidak tahu jika akhirnya akan begini! Jangan menyalahkan Ayahku terus!" bantah Ibu.
    Aku mencoba menutup telingaku. Rasanya pedih sekali mendengar pertengkaran itu. Rasanya sakit ... sekali. Tak terasa, butir-butir air mata jatuh ke pipiku. Aku terlalu pedih untuk menerimanya. Terlalu pedih untuk mengakuinya. Bahwa aku menderita penyakit buta warna.
    ***
Hari Sabtu ...
    Hari ini, Ibu mengajakku untuk pergi ke dokter mata. Entah untuk apa. Sampai di sana, aku ditanyai berbagai macam pertanyaan untuk anak kecil. Dan di sana pulalah terbukti, kemampuan melihat warnaku seperti anak kecil.
    "Tas ini warna apa, coba?" tanya Dokter Winda seraya menunjukkan tas berwarna merah.
    "coklat," jawabku mantap.
    Kulihat Dokter Winda menggelengkan kepalanya dan menuliskan sesuatu pada sebuah kertas. Kemudian ia menatap mata Ibu yang berkaca-kaca dilanda rasa khawatir.
    "Suratnya akan saya kirim setelah hasil tesnya keluar," ucap Dokter Winda.
    "Baik, Dok," balas Ibu.
    Lalu, Ibu pun mengajakku untuk pulang. Aku bingung. Ada apa sebenarnya? Tadi itu aku dites apa? Mengapa pertanyaannya seperti pertanyaan anak umur 2 tahun? Aku kan, sudah besar! Aku pun mulai merasa enteng karena kurasa itu tak apa-apa. Namun ternyata, aku salah.

Hari Minggu ....
    Hari ini, Ayah, Ibu, Kak Kanya dan Kak Nino pergi berolahraga. Sedangkan aku hanya meringkuk di selimut kedinginan. Aku menolak ajakan keluargaku untuk lari pagi. Karena aku merasa badanku kurang enak hari ini.
    Saat tengah santai-santainya tiduran, tiba-tiab bel di rumahku berbunyi. "Ting tong!"
    Dengan enggan, kubuka selimut yang menutupiku dan ku buka pintu rumahku. Kulihat ada seorang tukang pos yang tengah membawa sebuah amplop panjang. Alamat tujuannya diarahkan kepada Ibuku. Setelah tukang pos itu pergi, aku pun segera membuka amplop tersebut. yup! Kalian boleh menamaiku sebagai anak kepo karena memang begitulah sikapku.
    Kulihat isi surat tersebut. Aku bingung, maksudnya apa, nih? Namun tiba-tiab kulihat ada namaku di surat tersebut:

    Qelania Britany positif menderita buta warna.
   
    Seketika, aku pun menangis sejadi-jadinya. Ayah dan Ibu yang baru pulang, segera menghampiriku dan mengelus rambutku. "Sabar, Nak ... Mungkin saja Dokter Winda salah ..." ucap Ibu menghibur.
    Aku hanya bisa menangis. Tak lama, Ayah mulai menyalahkan Kakek karena penyebab penyakit ini. Aku tak mengerti mengapa Kakek yang disalahkan? Aku yang paling tak suka mendengar orang tuaku bertengkar, segera naik ke kamarku dan aku hanya bisa menangis.

***

-Bersambung-
(Ditunggu komentarnya..)

1 komentar: