Jumat, 10 Mei 2013

Warna Pelangi #bab8

Ridwan

Pagi ini, aku bangun lebih pagi dari biasanya. Kumasukkan buku-buku pelajaran ke tasku, lalu kupakai seragamku dan tak lupa, jilbab! Setelah mengecek ulang dan tak ada yang tertinggal, aku pun turun menuju meja makan.
    "Selamat pagi ..!" sapa Ibu seraya menuangkan susu di gelas milikku.
    "Selamat pagi juga!" balasku.
    Kini, aku merasa lebih baik dari biasanya. Sudah kulupakan tentang teman-teman di kolong jembatan. Kini, aku bertekad tak akan mengecewakan keluargaku lagi dengan kabur dari rumah seperti waktu itu.
    Kutarik piring berwarna putih milikku. Lalu kuisi dengan nasi, tempe dan tahu. Meskipun bisa dibilang aku orang berkecukupan, tapi soal makanan aku lebih senang makanan tradisional. Kumakan tempe dan tahu dengan lahap.
    Usai makana, kuminum susuku, lalu segera pamit pada Ayah dan Ibu karena bis sekolahku sudah datang.
    "Assalamu'alikum .." ucapku, lalu segera pergi.
    "Wa'alaikumsalam ..." jawab Ayah dan Ibu.
    Begitu masuk bis, rupanya seluruh kursi sudah penuh. Hanya tinggal satu kursi lagi. Kata teman-teman, dia anak baru. Seragamnya lusuh seperti seragam bekas, wajahnya kucel tampak seperti orang tak berada, dan dia masuk ke sekolahku karena dapat beasiswa.
    Tak ada pilihan lain, aku pun duduk di sampingnya. Wajahnya menghadap ke jendela, berusaha untuk menutupi diri. Seragamnya memang lusuh. Dan dia, seorang laki-laki.
    Kucoba menyapanya, "Hai!"
    Anak itu tetap menghadap ke jendela. Berpura-pura tak mendengar sapaanku. Kulihat ke arah rambutnya. Tiba-tiba, aku ingat sesuatu. Aku ingat, bahwa aku pernah melihat rambut seperti ini. Aku ingat! Ya, ingat! Dia adalah ...
    "Ridwan ..." ucapku.
    Ridwan menoleh ke arahku tengah heran. Mungkin dia berkata dalam hatinya, Kok, dia tahu namaku? Seketika, dia diam seribu bahasa begitu melihatku.
    "Ka ... kau ... bukannya kau ..." ucapan Ridwan terputus.
    "Ya, aku memang anak jalanan yang kemarin kau temui. Sebenarnya aku bukan anak jalanan, aku kabur dari rumah dan tinggal di kolong jembatan bersama teman-temanmu. Namun, ada suatu kejadian yang membuatku berpikir untuk kembali pulang," potongku.
    "Ba ... bagaimana bisa? Ka ... kau pasti bohong! Ka ... kau sama kan, sepertiku? Masuk melalui beasiswa?" tanya Ridwan kaget.
    Aku tak tahu harus menjelaskan apa pada Ridwan. Namun segera kuambil kartu siswa milikku. Ya! Semua anak di sekolahku harus mempunyai kartu siswa yang berisi nama, kelas, no. hp, dan jabatan. Kuperlihatkan kartu siswaku pada Ridwan.
    Qelania Britany
    6-C
    089856
    Pelukis mading sekolah

    "Pe .. lukis? Qelania? Yang terkenal di sekolah itu?" tanya Ridwan, luar biasa kaget.
    "Eum ... aku tak tahu apa aku terkenal atau tidak. Tapi, ya, namaku memang Qelania," jawabku.
    Tiba-tiba Ridwan memegang tanganku dan berkata, "Maaf, ya, aku telah meledekmu waktu itu."
    Aku tersenyum ke arahnya. "Iya, tak apa-apa, kok!" balasku.
    Ridwan membalas senyumanku. Senyumannya indah, mirip seperti Kiki. Ah, tiba-tiba aku ingat pada Kiki, Rara, Salsa, Faldi, dan Ferdi. Bagaimana, ya, keadaan mereka sekarang?
    "Ya, kita sudah sampai!" seru Pak supir.
    Aku dan Ridwan pun keluar dari bis melalui pintu belakang. Begitu turun, aku langsung bertanya padanya, "Kamu kelas berapa?"
    "6-D. Kamu?" Ridwan balik bertanya.
    "6-C," jawabku. "Sudah, ya, aku ke kelas dulu. Sampai bertemu istirahat nanti!" pamitku.
    Aku pun langsung memasuki kelasku. Aku menyimpan tasku di samping bangku Tina, sahabatku sejak kelas 1.
    "Qel, denger-denger, kamu kabur dari rumah, ya? Kenapa? Cerita, dong, sama aku!" pinta Tina.
    "Duuh ... ceritanya panjang.  Kapan-kapan saja, deh! Tuh, bu guru udah masuk!" tunjukku.
    "Yaah ... oke, deh!" balas Tina.
   
***

Istirahat pun tiba. Aku langsung pergi ke kantin. Sedangkan Tina, katanya dia hendak mencari buku IPA di pepustakaan karena ia kekurangan bahan untuk tugas IPA nanti.
    "Mbak, pesan bakso 2000, jangan pakai seledri dan bawang, pake lada dan kecap, jangan pake saus. Minumannya teh botol yang dingin," ucapku.
    "Ya, silakan tunggu," balas Mbak penjaga kantin.
    Kulihat ada Ridwan tengah makan sate ayam di meja nomor 7. Aku pun mendekatinya. "Aku duduk di sini, ya?"
    Begitu aku duduk, Ridwan langsung menawariku. "Mau sate ayam?" tawarnya.
    Aku menggeleng. "Nggak, terima kasih. Oya, aku mau ngomong sesuatu sama kamu."
    "Ngomong apa?" tanya Ridwan seraya meminum coca-cola.
    "Itu, lho! Soal Kiki sama teman-temannya. Kamu kok, tiba-tiba musuhin mereka? Emang apa salah mereka?" tanyaku langsung.
    "Eum ... sebenarnya aku sudah cukup lama memendam ini semua. Jadi begini, sebenarnya aku sangat ingin bermain dengan mereka. Hanya saja, Ibu melarangku. Bukan karena mereka miskin, tapi Ibu khawatir jika aku tertabrak kendaraan," jelas Ridwan.
    "Lah, kenapa kamu nggak ngomong yang sebenarnya?" tanyaku heran.
    "Soalnya aku takut dibilang cemen karena takut berkeliaran di jalan raya seperti mereka. Jadi, deh, aku menghina mereka. Sebenarnya aku ingin minta maaf, tapi .... aku nggak berani dan malu karena sudah menghina mereka," jawab Ridwan.
    "Kamu kenapa takut dibilang cemen? Aku yakin, mereka pasti ngerti, kok!" ucapku.
    Tiba-tiba bakso dan teh botolku pun datang. Aku langsung membayar semuanya. Sembari makan, aku terus berbincang-bincang dengan Ridwan.
    "Kalau ternyata mereka meledek, gimana? Apalagi Salsa ..." ucap Ridwan.
    "Salsa. Ya, dia memang anak tomboi. Tapi, bukankah Kiki dan Rara anak yang baik? Jadi jika kamu diledek, tenang, masih ada yang membelamu. Nah, gimana kalau hari ini kamu ke kolong jemabatan, terus minta maaf sama mereka?" usulku.
    "Eum ...."
    "Ayolah. Mau, ya? Aku nggak mau kamu terus bertengkar dengan mereka," mohonku.
    "Ya, sudah. Oke, deh!" balas Ridwan.
    "Yes! Oya, sebelum pergi, kamu ke rumah aku dulu, ya! Aku mau nitip sesuatu sama kamu. Ini alamat rumahku," pintaku, lalu segera memberikan alamat rumahku.
    "Memangnya mau nitip apa?" tanya Ridwan.
    "Rahasia. Mau tahu aja, deeh!" jawabku.
    "Huuh, ya sudah ..." Ridwan pun akhirnya pasrah.

***

    

Tidak ada komentar:

Posting Komentar