Jumat, 10 Mei 2013

Warna Pelangi #bab6

Pulang dan Pergi

Usai berenang, kami segera pulang. Sampai di rumah Kiki, aku langsung tidur di atas buku. Begitupula Bila. Di dalam tidurku, aku bermimpi sesuatu. Sesuatu yang buruk. Aku melihat Rara pergi menjauh dariku. Senyumnya mengembang. Langkahnya cepat. Dan tiba-tiab dia menghilang.
    "A ...!" Aku menjerit keras.
    "Kak Qel kenapa? Dibanjur aja kok, teriak?" tanya Bila.
    "Eh ... nggak apa-apa, kok! Kmau udah bangun? Kok, cepat banget?" tanyaku heran.
    Kiki tertawa seraya menyodorkan piring berisi bayam kepadaku, "Ini udah malam, Qel. Kamu tidur lama sekali. Sudah, nih, makanan untukmu. Harus habis, ya!" ucap Kiki.
    Aku mengangguk. Lalu segera memakan bayam yang ada dihadapanku. Jujur, aku sangat tidak menyukai sayur. Rasanya aku ingin membuang bayam itu. Melihatnya saja aku sudah muak. Tapi, aku juga tak mungkin menolak pemberian Kiki.
    Kumakan bayam itu dengan enggan. Akhirnya, bayam itu habis juga. Usai makan, Ibu Kiki pulang. Beliau langsung makan karena lapar sekali. Sementara Ibu Kiki makan, aku, Bila, dan Kiki pergi keluar untuk bermain.
    Udara malam hari memang dingin. Namun semua itu terbayar saat melihat lampu-lampu mobil-motor yang tampak membentuk sebuah bunga. Indah sekali.
    Malam ini, kami akan bermain Pesan Rahasia. Begini cara mainnya. Jadi, kita harus mencari apa saja yang berbau tajam dan bisa untuk mengukir sebuah pesan di pohon besar yang ada di sebrang jalan. Sebelumnya, kami menentukan dulu siapa yang akan mengukir. Setelah dapat, sang pengukir harus menulis pesan rahasia di bagian pohon mana saja. Sedangkan yang lainnya menutup mata. Siapa yang pertama menemukan, dia akan menjadi pengukir selanjutnya. Begitu seterusnya.
    Kami pun segera ber-hompimpa untuk menentukan siapa yang menjadi pengukir. Akhirnya, terpilihlah Rara sebagai pengukir pertama. Aku dan yang lainnya, kecuali Rara tentu saja, menutup mata sembari menunggu Rara selesai menulis pesan rahasia.
    "Selesai!" seru Rara.
    Kami pun langsung menyerbu pohon. Mencari-cari dimana tulisan itu. Kulihat ke arah Rara. Wajahnya tampak tegang dan panik. Dia seperti tengah mengucapkan sebuah doa. Aku pun berusaha melupakannya dan kembali fokus untuk mencari pesan rahasia.
    Tiba-tiba aku melihat sebuah gambar di bagian pohon sebelah kanan. Gambar pertama adalah wanita yang di bawahnya diberi nama Rara. Lalu disebelahnya laki-laki yang diberi nama Kiki. Kemudian gambar panah -> dan ada gambar wanita bernama Qelania. Lalu tanda panah kembali -> dan gambarnya berubah menjadi Rara, aku, dan Kiki. Kulihat ada ukiran X pada tubuhku. Lalu di bawahnya tertulis: "Aku benci Qelania. Dia telah merebut Kiki dariku."
    Tiba-tiba aku terpaku. Mungkin itulah alasan mengapa Rara tadi menangis di sungai saat aku dekat dengan Kiki. Dia cemburu. Marah. Karena aku telah merebut Kiki darinya. Tiba-tiba aku ingin menitikkan air mata. Namun segera kuusap air mataku.
    Tak lama, Faldi berkata, "Hei! Aku menemukannya! Pesan rahasianya adalah ... Kanan Pohon. Benar, kan,  Rara?" tanya Faldi.
    Rara menghembuskan nafas lega, kemudian tersenyum. "Iya, kamu benar!"
    "Tapi apa maksudnya Kanan Pohon?" tanya Salsa.
    "Aku hanya ... ngasal," jawab Rara.
    Aku melihat ke arah Rara. Jelas sekali dia berbohong. Kanan Pohon itu artinya ada misteri di pohon bagian kanan. Mungkin Rara tak mau bermain denganku. Dia juga tak mau aku ada di sini. Mungkin lebih baik aku pergi saja. Aku juga sudah terlalu banyak merepotkan Kiki, ucapku dalam hati.

***

Pukul 04.00 

    Aku terbangun dari tidurku. Aku sudah merencanakan akan pulang. Kusobek halaman tenga-tengah salah satu buku Kiki. Lalu kutulis sesuatu di sana.

    Untuk semuanya,
    Maaf, aku harus pulang. Maaf juga aku pergi begitu cepat. Aku janji akan kembali, tapi tak sekarang, besok, atau lusa. Terima kasih untuk pengalamannya yang begitu menyenangkan. Aku tak tahu harus berkata apa pada kalian.
    Untuk Kiki, terima kasih untuk tumpangan, makanan, dan pengalamannya. Untuk Rara, maaf atas semua kesalahanku. Aku harap kamu mau memaafkanku. Untuk Salsa, kamu harus tabah, ya! Aku yakin, Bapakmu pasti akan berubah :D Untuk Faldi dan Ferdi, aku tak tahu harus berbuat apa. Tapi aku do'akan agar kalian sukses selalu. Begitu juga dengan Kiki, Rara, dan Salsa.
    Dan maaf untuk Kiki karena telah menyobek halam tengah bukumu.
Salam, Qelania

Kusimpan surat itu di atas meja. Lalu aku segera pergi, pulang menuju rumah. Aku pulang dengan berjalan kaki. Berharap jalan akan semakin pendek, agar aku bisa sampi ke rumah ....
    

Tidak ada komentar:

Posting Komentar