Pukul 08.00 pagi
Kakiku serasa ingin copot. Aku telah berjalan jauh dari kolong jembatan hingga ke rumah. Sampai di rumah, Ibu langsung memelukku dan menangis keras. Kutahu, beliau pasti mengkhawatirkanku.
"Kamu darimana saja, Nak?" tanya Ibu seraya mengecup keningku.
"Maaf Bu, aku nggak bisa cerita sekarang. Kakiku rasanya mau copot. Capek banget. Aku mau tidur dulu, ya ..." jawabku.
"Ah, iya. Lebih baik kamu beristirahat saja. Nanti siang kita bicara, ya ..." ucap Ibu, lalu menuntunku menuju kamar.
Sampai di kamar, aku langsung menjatuhkan diri ke kasur dan langsung terlelap.
***
Sementara itu di kolong jembatan ....
"Aku punya kabar buruk," ucap Kiki.
"Apa?" tanya Salsa penasaran.
"Ini," jawab Kiki seraya memberikan surat yang ditulis Qelania tadi malam.
Faldi, Ferdi, Salsa, dan Rara, langsung mengerubungi Kiki. Mereka membaca surat itu bersama-sama. Seketika, Rara terdiam. Hatinya berkecamuk. Ada perasaan senang karena Qelania telah pergi, namun ada juga perasaan sedih karena harus kehilangan Qelania.
"Jujur, aku berharap dia mau tinggal di sini selamanya. Aku menyukai bagaimana caranya bersikap ramah. Dia juga tak pernah protes dengan apa yang kuberi. Meskipun aku tahu, dia adalah anak yang berada," terang Kiki terisak.
Tak disangka, air mata Kiki tiba-tiba mengalir. Dia, anak laki-laki yang paling tegar dari semua temannya, tiba-tiba menangis hanya karena Qelania?
"Kamu harus sabar, Ki ..." hibur Faldi dan Ferdi.
"Lihat, di sini dikatakan Qel akan kembali lagi. Sabarlah menunggunya," saran Salsa.
Sementara itu, Rara diam tak percaya. Kiki, anak laki-laki paling tegar yang pernah dikenalnya, menangis hanya karena Qelania. Itu tandanya, Kiki sangat bergantung pada Qelania. Jika Qelania pergi, maka ia akan rapuh. Jika Qelania di sampingnya, maka ia akan kuat. Seperti saat menghadapi Ridwan.
"Sudah, lebih baik kita lupakan Qelania. Mungkin dia sudah bosan dengan kita. Mungkin dia lebih nyaman di rumahnya daripada di sini. Lebih baik, kita mengamen saja. Kemarin kan, kita hanya bermain terus. Ayo!" ajak Rara.
Semua pun setuju. Dengan enggan, Kiki bernyanyi ke sana-kemari demi mencari uang yang tak banyak. dalam hati, Kiki berkata, Kenapa kamu meninggalkan kami? Apa salah kami? Apa kamu merasa tak nyaman denga kami?
***
Siang telah tiba. Aku bangun dengan keadaan yang lebih segar. Usai mandi, aku langsung duduk di teras, hendak berbincang-bincang dengan Ibu.
"Kamu ini sebenarnya kemana saja?" tanya Ibu seraya menyimpan 2 cangkir teh dan setoples kue kering di meja.
"Qel kabur, ke kolong jembatan yang di jalan besar itu, lho, Bu. Yang banyak pengamen ciliknya. Soalnya Qel nggak mau orang tua Qel bertengkar hanya karena masalah sepele," jawabku.
"Terus, kamu gimana hidup di sana?" tanya Ibu.
"Seru, Bu. Banyak pengalaman yang seru di sana bareng Salsa, Faldi, Ferdi, Kiki, dan ... Rara," jawabku melemah.
"Siapa mereka?" tanya Ibu.
"Pengamen cilik, Bu. Mereka tidak sekolah. Kasihan sekali. Andai Qel bisa bantu mereka ..." jawabku bergumam.
"Kamu ada-ada saja. Terus, kenapa kamu pulang? Bukannya Ibu nggak mengharapkan kamu pulang. Sebenarnya, Ibu sangat ingin kamu pulang. Tapi biasanya kan, kamu ngotot sama pendirian kamu. Kenapa tiba-tiba kamu memutuskan untuk pulang?" tanya Ibu.
"Qel ada masalah sama salah satu pengamen itu, Bu. Dia membenci Qel karena Qel sudah merebut sahabt dekatnya. Qel nggak punya tempat tinggal. Jadi, Qel memutuskan untuk pulang saja," jawabku jujur.
"Oya, Ibu mau bicara sesuatu sama kamu," ucap Ibu, tampak serius.
"Apa?" tanyaku.
"Kakekmu, Kakek Willy menderita buta warna. Dia menurunkan penyakitnya itu padamu. Kmau mau kan, memaafkan Kakek? Jujur, Kakek yang mendengar berita kami menderita penyakit buta warna pun sedih dan menyalahkan dirinya sendiri. Kau tahu mengapa Ibu dan Ayah bertengkar? Itu karena Ayah terus menyalahkan Kakek. Ibu tak terima itu," jelas Ibu.
"Tentu Qel akan memaafkan Kakek. Bagaimana pun, aku tetap sayang Kakek," jawabku.
"Oya, Ayah, Kak Kanya, Kak Nino kemana?" tanyaku begitu tersadar rumah sangat sepi.
"Mereka mencarimu sampai ke Jakarta. Ibu sudah bilang bahwa kamu ada di sini. Mereka senang sekali dan saat ini tengah dalam perjalanan," jawab Ibu. "Awalnya Ibu ingin ikut, tapi tak boleh karena Ibu tengah sakit batuk."
"Hm ..." Aku hanya bergumam.
"Maaf, ya, karena IBu dan Ayah, kamu jadi pergi. Jujur, kami berdua sangat menyesal. Dan sekarang, kami berjanji tak akan bertengkar lagi," lanjut Ibu.
Senyumku pun mengambang...
"Tidiit!"
Suara klakson mobil terdengar. Aku langsung berlari menuju mobil Ayah. Kupeluk Ayah, Kak Kanya, Kak Nino, secara bergantian. Mereka sangat merindukanku. Kebahagiaan terpancar di rumah ini. Namun, apakah kebahagiaan juga terpancar di kolong jembatan?
Kak, masih ada kelanjutannya kan?
BalasHapusmasih. tunggu, yaaa :D
BalasHapus