Kamis, 09 Mei 2013

Warna Pelangi #bab5

Cita-cita

Aku segera keluar dari sungai dan duduk di batu besar sembari mengeringkan pakaianku. Aku sudah lelah. Mataku sudah merah menahan kantuk. Aku memang sering mengantuk jika habis berenang.
    Kulipat kakiku, lalu kubenamkan kepalaku di atas kakiku. Aku pun mulai mencoba untuk tidur. Namun tiba-tiba, seseorang mencolek tanganku. Kuangkat kepalaku dan kulihat ke arah kanan. Rupanya Kiki yang mencolek tanganku.
    "Ada apa?" tanyaku sembari menguap.
    "Nggak. Maaf, aku udah ganggu kamu, ya? Soalnya aku kira kamu tidur," jawab Kiki.
    Memang kenyataannya aku tidur, ucapku dalam hati.
    "Matamu merah. Kamu ngantuk, ya? Ya sudah, ayo, kita pulang saja!" ajak Kiki.
    Aku menggeleng, meskipun rasanya berat sekali. "Nggak, ah! Mataku mungkin cuma kelilipan. Lagian, yang lain juga kan lagi seru-seru berenang, masa diajak pulang tiba-tiba?" tolakku.
    "Ya sudah, terserah kamu saja. Oya, kamu kok, udahan berenangnya?" tanya Kiki seraya menyilang kakinya.
    "Males aja," jawabku.
    "Bener?" tanya Kiki.
    Aku menoleh ke arah Kiki. "Benerlah."
    Tak lama, aku ingat akan pesan Rara padaku. Aku pun segera bertanya pada Kiki. "Ki, cita-citamu jadi apa?" tanyaku.
    "Aku? Cita-citaku ingin membahagiakan Ibu, ingin jadi orang yang sukses, dan aku pingin punya anak yang juga akan sukses," jawab Kiki.
    "Kamu masih kecil, kok, sudah mikirin soal anak?" tanyaku heran.
    "Biarin saja. Wee ..!" Kiki menjulurkan lidahnya.
    "Oya, kalau cita-citamu, apa?" tanya Kiki.
    Seketika, jantungku serasa berhenti berdetak. Aku menundukkan kepalaku. Tiba-tiba, surat dokter, Ayah, Ibu, semuanya, muncul di pikiranku.
    "Kenapa?" tanya Kiki, membuyarkan lamunanku.
    "Eh, nggak apa-apa, kok! Tadi kamu tanya cita-cita aku, ya?" tanyaku salah tingkah.
    "Aku tanya, cita-citamu jadi apa? Kamu kenapa, sih? Kok, tiba-tiba kayak konslet gitu?" Kiki balik bertanya.
    "Ah, tidak apa-apa, kok!" jawabku berbohong.
    Aku pun menarik nafas, menghitung sampai lima, lalu menghembuskannya. Dan aku pun kembali seperti semula. "Eum ... cita-citaku jadi seorang pelukis terkenal," jawabku.
    "Kamu bisa melukis?" tanya Kiki.
    "Melukis adalah hidupku," jawabku mantap.
    "Waah, hebat! Aku saja tidak bisa melukis," puji Kiki.
    "Ah, bisa saja ..." Pipiku merona merah.
    Sementara itu, Rara menarik nafasnya, lalu menghembuskannya. Dia berusaha untuk tetap tenang. Nmaun tiba-tiba air matanya mengalir...
 

1 komentar: