"Dasar anak miskin!" hardik Ridwan, lalu ia pun segera pergi.
"Ki, sabar, ya ..." ucap Rara.
Kami semua pun segera mengelilingi Kiki. Tangannya yang tadi terekepal, akhirnya pun lurus kembali. Kakinya sudah normal. Dan wajahnya sudah kembali sama seperti semula.
"Kamu nggak apa-apa, kan, Qelania?" tanya Kiki, tampak khawatir.
"Nggak, aku nggak apa-apa," jawabku.
"Sudah, yuk! Daripada main bola, mendingan kita mengamen!" seru Faldi seraya memetik senar-senar di gitar miliknya.
"Yuk, kita ke jalan!" balas Kiki.
Tiba-tiba Bila datang kepadaku. Aku pun langsung menggendongnya.
"Kamu dan Bila di rumah saja. Bahaya kalau ke jalan besar. Kamu kan, belum biasa," saran Kiki.
"Iya. Kamu di rumah Kiki aja sama Bila," lanjut Salsa.
Sembari merengek, Bila berkata, "Mau ikut ...."
"Bila kan masih kecil. Sama Kak Qel aja, ya!" ucap Kiki.
"Iya. Udah, kita di rumah aja, ya, Bila. Nanti kita main bola berdua aja, ya?" bujukku, walaupun sebenarnya aku ingin ikut dengan Kiki dan teman-temannya.
"Nggak seru ..." keluh Bila.
"Gimana, nih?" tanya Kiki meminta pendapat kepada teman-temannya.
"Udahlah, hari ini kita nggak usah ngamen aja dulu. Hasil ngamen kita kemarin kan juga lumayan banyak. Daripada mengamen, mending kita mandi di sungai, yuk!" usul Faldi.
"Yuk!!" seru semuanya setuju. Semuanya, kecuali aku, karena aku tak mengerti.
Faldi pun berjalan berdampingan bersama Rara. Lalu Ferdi bersama Rara. Dan aku bersama Kiki dan Bila. Kami pun berjalan menuju sungai yang dimaksud Faldi.
***
Samapi di sungai, Bila langsung masuk ke air. Sedangkan aku hanya diam. Sungai itu sangat indah. Beda dari sungai-sungai biasanya. Sungai ini bersih dan jernih. Terdapat banyak batu di sini. Udaranya pun masih sejuk.
"Ayo masuk, Ki!" seru Faldi dan Ferdi.
Kulihat ke arah Faldi dan Ferdi, mereka membuka baju mereka. Dan tampaklah tubuh gemuk Faldi serta tubuh kurus Ferdi. Mereka berloncat bersamaan dari sebuah batu. Byuuur!
"Ki, ayo, masuk! Salsa, Rara, eum ..." ucapan Ferdi terputus.
"Qelania," potongku.
"Iya, semuanya, ayo, masuk! Bila saja sudah masuk. Masa kalian kalah?" lanjut Ferdi.
Kiki tersenyum ke arahku. Dia pun menarik tanganku menuju sungai.
"A ...!" aku menjerit kaget.
Byuurr! Rasa air di sungai ini sangat dingin, tapi cocok sekali untuk berendam. Tiba-tiba, datang Salsa dari arah utara. Dia menceburkan dirinya. Kucari-cari Rara, dia tengah melihat ke arahku dengan tatapan kesal.
Rara kenapa? tanya dalam hati.
"Ra, ayo!" ajak Kiki.
Rara mengangguk, lalu segera menceburkan dirinya ke sungai. Dan kami pun mulai berendam dengan santai.
Merasa capek, aku pun bersandar pada batu, sembari tetap berendam. Rara yang melihatku, segera mengahampiriku dan ikut bersender pada batu.
"Hai," sapanya.
"Hai juga," balasku.
"Eum ... aku mau ngomong sesuatu sama kamu," ucap Rara, tampak serius.
"Mau ngomong apa?" tanyaku.
"Tolong jaga Kiki, ya! Jangan sampai dia sakit atau gimana," pinta Rara. "Dan tolong, bantu dia untuk menggapai cita-citanya."
"Ya, Insya Allah," jawabku, merasa pernyataan itu hanya bercanda. Aku? Melindungi? Kiki? Ada-ada saja. Memangnya ada apa, sih?
"Kamu mau kan, berjanji sama aku bahwa kamu bakal menepati permintaanku?" tanya Rara, penuh harap.
"Eum .... ya, tentu saja!" jawabku seraya tersenyum.
Kemudian, Rara segera ikut berenang bersama yang lain. Wajahnya kini tampak lebih ceria daripada yang biasanya. Ada apa, ya?
***
Wah, tambah seru!
BalasHapus