Kamis, 02 Mei 2013

Warna Pelangi #bab2

Pergi

Malam telah tiba. Mataku sudah bengkak karena terlalu lama menangis. Rasa kantukku sudah tak dapat ditahan lagi. Namun telingaku masih saja mendengar suara pertengkaran Ayah dan Ibu. Rasanya aku ingin mencopot saja telingaku ini, daripada harus mendengarkan pertengkaran yang tak akan ada habisnya.
    "Kapan Ayah dan Ibu akan berbaikan lagi, Ya Allah?" tanyaku terisak.
    Tiba-tiba, mulai terpikir olehku bahwa aku akan pergi dari rumah ini, hingga Ayah dan Ibu berbaikan, malam ini juga! Aku pun langsung bangun dan mencuci wajahku.
    Tiba-tiba aku teringat satu hal.
    Aku segera mengambil sebuah kertas dan sebuah pena. Lalu kutuliskan di sana:
    Aku akan pergi dari rumah ini, sampai tak ada lagi yang ribut di rumah ini. Sampai tak ada lagi pertengkaran antara Ayah dan Ibu di rumah ini. 
Salam sayang, Qelania Britany

    Setelah itu, aku segera membawa surat itu, memakai jilbab putihku, lalu segera turun. Untuk sampai ke pintu utama, aku harus melewati ruang keluarga, tempat dimana Ayah dan Ibu tengah bertengkar.
    Namun saat melewatinya, aku hanya diam saja dan menyimpan kertas yang kubawa di meja kaca. Lalu aku segera melewati ruang tamu, membuka pintu utama dan pergi. Entah apa yang dipikirkan orang tuaku, tapi yang pasti, dia tak mengejarku sama sekali, untuk beberapa menit.
    Kulihat ke arah belakang 3 menit kemudian. Kulihat Ayah pergi menuju kamar. Dan ibu tengah membaca surat yang kutinggalkan. Merasa tak enak, aku segera pergi. Aku tak mau mendengar tangisan Ibu yang akan membuatku menggagalkan rencanaku ini.
    Andaikan semua tak terjadi. Andaikan mataku normal dan tidak buta warna. Andaikan hasil yang diberikan dokter itu salah. Andaikan, andaikan orang tuaku tak bertengkar... Pasti aku masih tinggal di rumah. Mendekap di balik selimut hangat. Dan merasakan belaian serta suara-suara orang tuaku yang selalu menghiburku di kala sedih ... Andaikan ... Andaikan ...

1 komentar: