Rabu, 24 Agustus 2011

Kamera Impian Lisa

Lisa adalah seorang anak kecil yang senang dengan kamera dan foto-foto. Impiannya jadi fotografer terkenal. Sayangnya, Lisa adalah anak yang miskin. Meski begitu, ia tetap berjuang keras demi cita-citanya. Ia juga menginginkan sebuah kamera dari Paris dan pastinya, kamera digital. Bukan kamera yang jaman dulu yang harus pake clise yang dimiliki Lisa.
    "Bu, aku jual pisang goreng dulu, yah! Assalamu'alaikum," pamit Lisa saat hendak pergi keliling menjual pisang goreng buatan ibunya.
    "Waalaikumussalam. Hati-hati, Nak!" pesan ibu Lisa.
    Tiap hari, Lisa mencari pekerjaan demia kamera yang diinginkannya itu. Mulai dari menjual pisang goreng, menjual bala-bala, mencuci pakaian orang lain, mengangkut barang belanjaan orang lain, dan mengembala kambing milik para peternak yang ada di desa itu. 
    "Ayo, beli pisangnya, Bu, Pak. Dijamin enak," teriak Lisa memasarkan dagangannya.
    "Lisa! Sini!" perintah seorang ibu-ibu.
    "Ya, bu?" tanya Lisa.
    "Beli 2 ribu. Ini, ibu ada kamera bekas. Masih bisa dipakai. Tapi bukan kamera digital!" ucap ibu itu sambil memberikan kamera yang masih terlihat bersih.
    "Terima kasih, Bu. Jadi, pisangnya 4. Ini," ucap Lisa.
    "Sama-sama. Nanti malam, datang ke rumah saya, yah! Kalau ada makanan yang lebih, kamu bisa mengambilnya. Oke?" ucap ibu itu.
    "Terima kasih, Bu. Saya pamit dulu, mau keliling lagi. Assalamu'alaikum." pamit Lisa.
    "Waalaikumussalam." jawab ibu itu.
    "Wah, dapat kamera. Lumayan meskipun bukan digital." gumam Lisa.
    "Lisa, main, yuk!" ajak Candra, salah satu temanLisa.
    "Maaf, aku sedang jualan. Nanti malam saja. Itupun kalau aku diizinkan." ucap Lisa.
    "Oke, sampai nanti!" pamit Candra sambil pergi ke rumahnya.
    "Ayo, beli pisangnya, dijamin enak." teriak Lisa.
    "Lis, beli 5 ribu." ucap seorang teteh-teteh.
    "Iya, teh. Ini. Terima kasih." ucap Lisa.
    "Sama-sama." balas teteh-teteh itu.
    "Yes. Untung juga. Baru dua pelanggan, udah dapat 7 ribu. Terima kasih ya Allah." ucap Lisa senang.
    "Lis, 3 ribu. Cepat. Nanti si Adek nangis!" ucap Yuni, salah satu teman Lisa juga.
    "Ini. Assalamu'alaikum." pamit Lisa.
    "Waalaikumussalam." balas Yuni.
    


Kini, malam tlah tiba. Lisa segera menghampiri tempat dimana Candra selalu ngerumpi sama Teman-teman- nya. 
    "Can, ada apa?" tanya Lisa.
    "Kemarin, Om-ku yang kaya raya itu ngasih aku kamera dari Paris. Tapi udah bekas. Aku tahu, kamu ingin kamera itu, kan? Jadi, kuberikan padamu. Gak apa-apa, kan, sudah bekas?" tanya Candra.
    "Tidak apa-apa. A ...! Terima kasih, Candra. Kau sahabat terbaik. Selalu mengerti aku." ucap Lisa girang.
    "Sama-sama, Lisa. Coba pakai. Kau foto aku." ucap Candra.
    Clik!
    "Masih berfungsi dan bisa dibilang ini tidak bekas. Terima kasih banyak, Candra." ucap Lisa sangat, sangat gembira.
    Akhirnya, Lisa pun mendapatkan apa yang ia inginkan. Yup! Sebuah kamera dari Paris. Semau ini berkat ... Candra, ank miskin yang baik hati.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar